Bolehkah Membasuh Kaos Kaki Sebagaimana Membasuk Khuffain Dalam Berwudhu?

ilmusyariah.com | 06 Oktober 2018



Khuff atau khuffain merupakan sesuatu yang dipakai yang menyerupai sepatu yang menutup rapat telapak kaki atau yang biasa disebut dengan “sepatu kaos kaki”. yang biasanya terbuat dari kulit, tidak tembus air dan menutup mata kaki. Khuffain seringkali digunakan orang-orang yang tinggal di negeri-negeri yang memiliki musim dingin. Dengan kondisi cuaca yang sangat dingin, terkadang aktifitas-aktifitas yang memiliki interaksi langsung dengan air sangat berat dilakukan jika tidak memiliki sumber air hangat. Begitu halnya dengan mencuci kaki dalam wudhu dengan air dingin di musim dingin setiap kali akan melaksanakan shalat sangat memberatkan dan menyulitkan orang yang ingin berwudhu’. sehingga membasuh khuffain ini dapat dianggap sebagai rukhsah, yaitu keringanan yang di berikan syariat kepada kaum muslimin yang melakukan wudhu, khususnya bagi kaum muslimin yang berada di negeri negeri yang memiliki musim dingin atau bagi para musafirMaka syariat memberikan kemudahan bagi orang yang ingin berwudhu melalui sunnah Rasulullah untuk mengangkat beban ini, sehingga syariat membolehkan membasuh khuffain sebagai pengganti mencuci kaki dalam wudhu.

Namun, bagaimana jika hal yang dilakukan pada khuffain dipraktekkan pula saat menggunakan "kaos kaki" yang biasa dipakai sebagai pelapis sebelum memakai sepatu. Sementara antara kfuffain dan kaos kaki diketahui memiliki perbedaan yang signifikan dari sisi bahan pembuatannya, dimana khuffain menggunakan bahan kulit sedangkan kaos kaki hanya menggunakan bahan dasar benang yang tembus air, yang menyebabkan salah satu syarat dibolehkannya membasuh khuffain yaitu tidak tembus masuk air melalui celah celah lubang bekas jahitan maupun dikarenakan rusak tidak terpenuhi.

Mufti Agung Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad Dalam kasus seperti ini menyebutkan bahwa, jumhur (mayoritas) ulama membolehkan membasuh kaus kaki jika bahan dasar yang digunakan dalam membuat kaos kaki tersebut dari kulit yang dapat digunakan sebagai alas kaki untuk berjalan dan dipakai ketika dalam keadaan tidak berhadas atau suci sebagaimana dibolehkan membasuh khuffain. Dalil dibolehkannya membasuh kaus kaki seperti ini adalah,

حديث الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَسَحَ عَلَى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ . رواه أحمد وأبو داود والترمذي


Artinya:

"Hadis Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw. membasuh kedua kaus kaki dan kedua sandalnya. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi dan dia menshahihkannya)."

Syeikh Ali Jum'ah menambahkan bahawa jumhur ulama membatasi keumuman makna hadis tentang membasuh kaus kaki dengan batasan yang disebutkan dalam hadis-hadis membasuh khuf (kaus kaki dari kulit). Sehingga, dalam membasuh kaus kaki, mereka mensyaratkan hal-hal yang disyaratkan dalam membasuh khuff yaitu terbuat dari bahan dasar kulit.

Namun, sebagian ulama, seperti beberapa ulama mazhab Hambali, seperti juga al-Qasimi dan Ahmad Syakir dari kalangan ulama belakangan, mengambil makna zahir dari nash-nash tersebut. Mereka memperbolehkan seseorang membasuh semua jenis kaus kaki yang dipakainya ketika berwudu, tanpa ada batasan apakah kainnya tipis atau tebal, dan apakah kaus kaki itu menutup seluruh permukaan kulit atau tidak.

Dengan demikian, membasuh kaus kaki yang tipis adalah tidak boleh menurut jumhur ulama dan boleh menurut sebagian kecil ulama yang lain.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.


Previous
Next Post »