Seberapa Pentingkah Menuntut Ilmu?

Ilmusyariah.com | 27 September 2018

Kata ilmu atau sains dalam bahasa Arab "ilm" berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Jika dikaitkan dengan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu bidang pengetahuan. Memahami suatu bidang ilmu pengetahuan berarti memahami baik dan buruknya hasil yang diperoleh. Oleh sebab itu, pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia tidak dapat diragukan lagi.

Namun, bagi seorang Muslim makna menuntut ilmu tidak hanya sebatas pada pengetahuan atau pemahaman terhadap suatu perkara, tetapi lebih universal dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk itu seberapa penting menuntuk ilmu bagi seorang Muslim diantaranya akan dirangkum sebagai berikut:

1. Kewajiban bagi seorang Muslim

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallahu Álaihi wa Sallam bersabda"Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap umat muslim..... " (HR. Ibnu Majah : 224)

Dalam hadist tersebut, disebutkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, Sahabat Anas Ibn Malik menjelaskan kewajiban pada hadis di atas mengandung arti wajib Áin maupun wajib kifayah. Artinya kewajiban umat Islam terhadap suatu ilmu itu bergantung pada kebutuhan ilmu itu sendiri. Jika kebutuhan ilmu untuk kepentingan umum, seperti membela agama Allah SWT, maka hukumnya menjadi wajib Áin atau untuk kepentingan pribadi seperti pemahaman tentang tata cara beribada kepada Allah SWT maka hukumnya tetap wajib Áin. namun jika kebutuhan akan ilmu dimana penguasaan terhadapnya tidak membutuhkan pada setiap orang, maka hukum menuntut ilmu menjadi wajib kifayah. Allah SWT berfirman:

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.Memperoleh Kebahagiaan di dunia dan akhirat" (QS : At-Taubah : 122)


2. Memperoleh Kebahagiaan di dunia dan akhirat

Kebahagiaan adalah tujuan utama yang ingin dicapai oleh manusia dalam hidupnya. Kebahagian tidak diukur hanya dengan materi saja, banyak manusia yang telah memiliki materi yang berlimpah belum mampu mencapai tingkat kebahagiaan seperti yang diinginkan. Sebuah ungkapan yang dinukilkan dari Imam Syafií sebagaimana dikutip dalam mukaddimah kitab Mughni Muhtaj karya Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Khatib As-Syarbaini mengatakan bahwa:

"Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dalam kehidupan dunia maka dengan berilmu. Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) pada kehidupan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan (Kebahagiaan) pada keduanya, maka hendaklah dengan ilmu. "

3. Sebagai Jalan Menuju Syurga

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda :"Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga." (HR. Muslim : 2699)

Dalam hadis ini, ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama semata, namun mencangkup makna ilmu pengetahuan secara umum selama ilmu yang dimaksud bukanlah ilmu yang akan mencelakaan agama maupun manusia itu sendiri. Seorang Muslim yang menuntut ilmu baik dalam Mesjid, Sekolah, Kuliah dan tempat-tempat lainnya maka Allah akan memudahkan jalannya menuju Syurga.

4. Ditinggikan derajatnya di sisi Allah Swt.

"...... Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS.Al Mujadalah:11)

"Jadilah seperti padi, semakin berisi/matang semakin merunduk" sebuah filosofi yang tidak asing terdengar, namun mengandung arti yang dalam. dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang akan dipandang baik jika semakin tinggi usia atau semakin tinggi ilmu dan kemampuannya sementara ia semakin merendahkan hatinya. Demikian pula di sisi Allah SWT, seseorang akan ditinggikan derajatnya karena ilmu yang dimiliki.

5. Sebagai Penolong pada Hari Kiamat.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : "Apabila anak Adam mati maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya."(HR. Muslim :1631)

Sama seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat juga merupakan amal yang tidak terputus walau anak Adam tersebut sudah meninggal. Segala ilmu dalam hal kebaikan yang kita ajarkan pada orang lain merupakan Ilmu yang bermanfaat. Dengan syarat ilmu itu terus diajarkan kepada orang lain dengan benar.

Semisalnya kita mengajarkan kepada anak kecil mengenai rukun iman dan islam, sehingga anak kecil itu pun menjadi tau mengenai Apa itu iman dan Apa itu islam. Setelah itu si anak kecil itu pun ketika besarnya ia mengajari anak kecil juga mengenai rukun islam dan rukun iman bekal dari apa yang kita ajarkan dan begitu juga seterusnya. Maka amal kita akan mengalir walaupun apabila kita sudah wafat.

6. Sebagai Penerang dalam Kegelapan

Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak."  [HR.Abu Dawud no.3641, At-Tirmidzi no.2682].

Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempermisalkan orang yang berilmu dengan bulan purnama, sedangkan ahli ibadah dengan bintang-bintang? Oleh karenanya, marilah kita menyimak penjelasan dari para ulama kita.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

"Di dalam perumpamaan tersebut terdapat mutiara yang lain, yaitu bahwa kejahilan laksana malam dalam kegelapannya. Para ulama dan ahli ibadah seperti kedudukan bulan dan bintang-bintang yang terbit dalam kegelapan itu. Keutamaan cahaya seorang yang berilmu dalam kegelapan itu dibandingkan cahaya seorang yang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan dibandingkan bintang-bintang". [Lihat Miftah Dar As-Sa'adah (1/259), tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy].

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata,

"Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan orang yang berilmu dengan bulan, ahli ibadah dengan bintang-bintang, karena kesempurnaan ibadah, dan cahayanya tak akan melampaui diri ahli ibadah tersebut. Sedang cahaya orang berilmu akan terpancar kepada yang lainnya".  [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/481)]

Orang yang berilmu akan menjadi berkah dimanapun ia berada. Ia bisa mengajari manusia dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga manusiapun bisa berjalan di muka bumi dengan cahaya ilmu yang akan menuntun mereka dalam gelapnya alam kejahilan. Seluruh manusia akan mengambil manfaat darinya, baik yang jauh maupun yang dekat, yang besar maupun yang kecil sebagaimana para makhluk dapat mengambil manfaat dari cahaya bulan purnama baik yang jauh maupun yang dekat. Bahkan hewan-hewan yang melata di muka bumi serta ikan- ikan yang berada di dasar lautan merasakan manfaatnya sehingga merekapun memintakan ampunan bagi orang-orang yang berilmu.

" Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh para makhluk yang berada di langit dan di bumi bahkan sampai ikan-ikan besar yang berada di dasar lautan " [HR. Abu Dawud (3641) dan At-Tirmidzi (3682)].

Wallahu A'lam.


Oldest