Cinta Suci Dari Wanita-Wanita Mulia (Part 1)

ilmusyariah.com | 31 Desember 2018

Rahasia Dibalik Cinta Khadijah R.A. Kepada Rasulullah Shallallahu Álaihi Wasallam


Siapa yang tidak mengenal Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita terpandang dan memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan wanita-wanita Arab Quraisy lainnya. Dikalangan bangsa Arab Quraisy Makkah, Khadijah sering disebut sebagai At-Thahirah (wanita suci), julukan yang diberikan padanya sama dengan julukan yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw., yakni At-Thahir. Orang-orang Makkah juga menyebut Khadijah sebagai pemuka wanita Quraisy. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa meskipun usia Khadijah telah mencapai 40 tahun, namun kecantikan yang dimiliki Khadijah mampu menandingi gadis-gadis Arab Quraisy saat itu. Selain itu, kelihaiannya dalam berdagang dan mengelola kekayaan menjadikan Khadijah sebagai saudagar wanita yang cukup dikenal. Hal ini menyebabkan Khadijah menjadi rebutan tokoh-tokoh Arab Quraisy untuk memperistrikannya.

Sebelum Menikah dengan baginda Rasulullah Saw., Khadijah pernah menikah dengan dua orang laki-laki, kedua suaminya terdahulu meninggal dunia, yaitu 'Atiq bin 'Aidz, darinya Khadijah melahirkan seorang putri bernama Haritsah dan suaminya yang kedua adalah Abu Halah At-Taimi (Malik bin Zurarah), ada juga yang menyebutnya Hindun bin Zurarah. Darinya Khadijah melahirkan seorang anak perempuan bernama Halah dan seorang anak laki-laki bernama Hindun.

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid pernah bermimpi, dimana dalam mimpinya tersebut beliau melihat sinar cahaya matahari yang sangat terang dan besar turun dari langi kota Makkah menuju kerumahnya, lalu masuk kedalam dan meluas menerangi seluruh penjuru rumahnya. sinar tersebut semakin terang hingga mampu menembut mata dan jiwa Khadijah. Khadijah sempat terbangun dari tidurnya, meski saat itu bumi masih diselimuti oleh kegelapan malam, namun bagi Khadijah cahaya tersebut masih terus bersinar didalam hatinya yang paling dalam. Bersamaan dengan terbitnya matahari yang disambut dengan sejuknya udara pagi, Khadijah pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju rumah anak pamannya, seorang ahli kitab yang bernama Waraqah Ibn Naufal untuk menanyakan perihal mimpinya tersebut dan berharap mendapatkan jawaban dari takwil mimpinya. Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib yang masih berpegang teguh pada ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan menguasai beberapa kitab suci (kitab-kitab agama samawi seperti Taurat, Zabur dan Injil) kemudian bertanya kepada Khadijah dengan penuh rasa terkejut, "Apakah gerangan yang menjadikanmu datang pagi pagi begini wahai Khadijah anak pamanku?". Khadijah lalu duduk dan mengisahkan mimpinya secara rinci, Waraqah pun tersenyum setelah mendengarkan apa yang diceritakan anak pamannya tersebut, kemudian berkata kepada Khadijah dengan tenang dan bersahaja, " Bergembiralah wahai putri pamanku, seandainya mimpimu itu benar datangnya dari AllahSwt., maka cahaya kenabian akan masuk kedalam rumahmu dan cahaya tersebut merupakan cahaya kenabian yang terakhir".

Setelah mendengarkan jawaban atas mimpinya tersebut, Khadijah sempat terpaku untuk beberapa saat, tubuhnya menggigil dan jiwanya dipenuhi pengharapan akan turunnya ramat dari tuhannya. Setiap kali ada pemuka Quraisy yang datang untuk meminangnya, Khadijah selalu mempertimbangkannya berdasarkan apa yang dijelaskan oleh sepupunya Waraqah. Akan tetapi, dari sekian banyaknya yang datang untuk meminangnya, belum ada satupun yang cocok dan sesuai dengan ciri-ciri nabi terakhir sebagaimana yang terdapat dalam penjelasan Waraqah tentang mimpinya, sehingga pinangan yang datang kepadanya selalu ditolak. Khadijah terus berharap dan menantikan takdir Allah Swt. yang masih tersembunyi itu. Siapakah gerangan lelaki tersebut?

Sebelum menikah dengan baginda Rasulullah Saw., sebagai seorang pengusaha sukses, Khadijah banyak mempekerjakan banyak pemuda dan laki-laki berusia 30-50 tahun, sehingga Khadijah mengenal sifat dan karakter sebagian besar dari mereka. Namun demikian, tidak ada satupun karakter dan sifat yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. terdapat pada mereka. Melihat pada keadaan lingkungan dan kaumnya, maka akan sangat sulit bagi Khadijah untuk menemukan sosok yang diidam-idamkannya tersebut, hingga  Khadijah mendengar perihal tentang sepak terjang seorang pemuda Quraisy yang jujur, amanah dan memiliki akhlak yang mulia, pemuda tersebut tidak lain adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthablib yang mendapat kunyah dari bangsa Quraisy Makkah saat itu sebagai "Al-Amiin" atau orang yang dapat dipercaya karena peran besarnya dalam menghentikan kekacauan yang dapat memicu pertumpahan darah antar bangsa Quraisy Makkah disebutkan perebutan hak untuk meletakkan hajarul aswad ke tempatnya semula.

Ibnu Ishaq berkata, " Khadijah binti Khuwailid bukan hanya seorang pengusaha wanita yang kaya, tetapi juga wanita pemilik kemuliaan. Dia sering mempekerjakan beberapa orang laki-laki untuk mengelola hartanya dengan menerapkan sistem mudharabah dan memberikan bagi hasil yang diperoleh dari keuntungan atas perniagaan yang dilakukan". Sehingga, setelah Khadijah mendengan tentang kejujuran Rasulullah Saw., Khadijah pun mengutus seseorang untuk bertemu dengan nabi Muhammad Saw. dan meminta Nabi berdagang menuju ke Syam dengan dagangan miliknya dan memberikan upah lebih banyak dari yang pernah diberikan kepada orang-orang yang pernah berdagang sebelumnya. Nabi Muhammad Saw. pun menerima tawaran tersebut dan pergi menuju ke Negeri Syam untuk berdagang dengan modal yang diberikan oleh Khadijah, dalam perjalanan dagangnya ini, Rasulullah Saw. ditemani oleh pembantu (laki-laki) bernama Maisarah.

Setelah Rasulullah dan pembantu Khadijah yang bernama Maisarah kembali ke Makkah dengan membawa keuntungan dua kali lebih banyak dari biasanya dari hasil perniagaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw., Maisarah pun menceritakan beberapa kejadian aneh yang terjadi dalam perjalanannya menuju Syam dan saat pulang ke Makkah kepada Khadijah. Pertama, disaat dalam perjalanan menuju Syam, Nabi Muhammad berteduh dibawah sebatang pohon dekat pertapaan seorang rahib.  Pohon yang masih bertahan sampai sekarang ini dikenal dengan julukan "The Only Living Sahabi" atau "pohon sahabi". Pohon sahabi ini terletak di tengah gurun pasir bernama "Buqa'awiyya" di negara Yordania. Pada saat Rasulullah berteduh di bawahnya, dahan dan ranting-ranting pohon tersebut bergerak menaungi Beliau dari panas teriknya matahari, kemudia sang rahib yang melihat kejadian tersebut menghampiri dan bertanya kepada Maisarah, "Siapakah laki-laki yang berteduh di bawah bayangan pohon tersebut?" Maisarah menjawab, "Dia seorang laki-laki dari suku Quraisy, penduduk tanah haram." Rahib itu pun berkata padanya, "Tidaklah seseorang berteduh dibawah pohon itu, melainkan dia adalah seorang nabi". Kejadian lainnya adalah ketika Rasulullah dan Maisarah dalam perjalanan pulang menuju Makkah, ketika itu hari sangat panas, namun ia melihat ada dua malaikat yang menaungi beliau dari sengatan matahari.

Setelah mendengarkan kisah yang diceritakan oleh pembantunya yang bernama Maisarah tersebut, Khadijah kembali teringat pada penjelasan Waraqah bin Naufal mengenai mimpinya. Selain itu, kisah yang diceritakan Maisarah itu juga mengingatkan Khadijah kejadian yang terjadi pada masa kecilnya. Pada saat itu, Khadijah sedang berada di salah satu sudut kota Makkah di antara kerumunan gadis Quraisy, lalu tiba-tiba muncul seorang yahudi dan berteriak dengan suara keras dan lantang, "Wahai wanita bani Taima, sesungguhnya akan ada seorang nabi ditengah-tengah kalian yang bernama Ahmad, yang diutus oleh Allah Swt. dengan membawa risalah-Nya. Siapa saja di antara kalian yang sanggup menjadi istrinya, maka lakukanlah!".

Ingatan tersebut datang kembali, Khadijah terus bertanya-tanya dalam hatinya, Gerangan apakah sehingga tiba-tiba ia teringat kejadian yang terjadi sudah begitu lamanya, apa yang ada dibalik kenangan itu?. Setelah lama merenungnya, Khadijah akhirnya mengetahui kaitan antara ingatan masa kecilnya tersebut dengan sesuatu yang terus menjadi pikirannya selama ini, yaitu Mauhammad. Khadijah tidak menemukan sosok tersebut di antara para laki-laki Quraisy yang memiliki sifat seperti itu, kecuali hanya pada seorang laki-laki dari Bani Hasyim yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Getaran cinta muncul dari hati sang wanita suci ini, harapan yang sudah mulai meredup kembali menyala, dan benih-benih cinta pun muncul. Namun, mengingat usianya telah mencapai 40 tahun, selain itu Khadijah juga sudah menjanda dan memiliki anak, sementara di luar sana ada banyak gadis-gadis Makkah dan "bunga-bunga" suku Quraisy, apakah Muhammad mau memperistrikan Khadijah?

Wallahu A'lam



Referensi:
1. 150 Qishah min Hayati Khadijah binti Khuwailid
2. Fi Bayti Ar-Rasul (Bilik-bilik Cinta Muhammad)
Previous
Next Post »