Dosakah Memperingati Hari Ibu?

ilmusyariah.com | 22 Desember 2018

Memperingati Hari Ibu Yang Telah Menjadi Kebiasaan Masyarakat Di Seluruh Dunia, Apakah Hal Ini Dibolehkan Dalam Syariat Islam?


Dalam kaidah ilmu ushul fiqh, dijelaskan bahwa segala perkara yang berkaitan dengan muamalah (hubungan manusia dengan manusia lainnya) pada dasarnya adalah boleh atau mubah selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.

Kata "ibu" bagi umat Islam memilihi arti yang sangat mulia. Dalam literature bahasa Arab, kata ibu atau al-umm mengandung arti sebagai asal muasal, tempat tinggal, pemimpin serta pelayan bagi suatu kaum yang bertugas menyediakan makanan dan keperluan mereka. Makna terakhir ini dinukil dari Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu yang merupakan salah satu ulama fikih dan juga pakar bahasa terkemuka.

Ibnu Duraid berkata, "Bangsa Arab menyebut segala sesuatu yang menjadi tempat bertemunya benda-benda lain yang ada di sekitarnya disebut dengan nama ibu." Karena itulah, kota Mekkah disebut juga dengan Ummul Qura (Ibu Perkampungan), karena ia terletak di tengah-tengah dunia dan merupakan kiblat yang menjadi tujuan orang-orang dari berbagai penjuru. Selain itu, Mekah juga merupakan tempat yang mempunyai posisi paling penting.

Dalam budaya kita yang diwariskan secara turun temurun, keluhuran makna kata "ibu" pun semakin jelas dalam penggunaan kata silaturahim. Nampak jelas bahwa dalam kata silaturahim salah satu organ tubuh ibu, yaitu ar-rahim atau rahim, dijadikan simbol pengikat antar anggota keluarga yang merupakan pilar tegaknya sebuah masyarakat. Hal itu karena tidak ada seorang pun yang lebih berhak untuk menyandang predikat ini melebihi ibu; sosok yang karenanya kehidupan ini terus berlangsung dan sebuah keluarga dapat terbentuk, serta memancarkan nilai-nilai kasih sayang. Semua ini semakin sempurna dengan adanya makna religi yang indah sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi,

قَالَ اللهُ عَزَّوَجَلَّ: أَنَا اللهُ، وَأَنَاالرَّحْمَنُ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَشَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِيْ، فَمَنْ وَصَلَهَاوَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

"Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Aku adalah Allah, dan Aku adalah ar-Rahman (Sang Maha Pengasih). Aku menciptakan rahim, dan Aku memberinya nama dari nama-Ku. Maka barang siapa menyambungkannya maka Aku akan menyambungkan hubungan kekerabatannya, dan barang siapa yang memutuskannya maka Aku akan memutus hubungan kekerabatannya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi –dan dia menshahihkannya—, dari hadits Abdurrahman bin Auf r.a.).

Rasulullah Shallallahu Álaihi Wasallam menjadikan ibu sebagai sosok yang paling berhak untuk mendapatkan kemuliaan dan bakti dari seorang anak melebihi ayahnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallâhu 'anhu, dia berkata, "Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan baktiku?" "Ibumu," jawab beliau. "Kemudian siapa?" lanjutnya. "Ibumu." "Lalu siapa lagi?" tanyanya lagi. "Ibumu." "Kemudian siapa lagi?" "Ayahmu," jawab beliau. (Muttafaq 'alaih).

Islam juga menetapkan bahwa hubungan seorang anak dengan ibunya adalah hubungan organik yang alami. Sehingga, penisbatan seorang anak kepada ibunya tidak tergantung pada apakah anak itu berasal dari hubungan yang sah (nikah) ataukah tidak (perzinaan). Seorang perempuan adalah ibu dari anak yang ia lahirkan, bagaimanapun cara anak itu diperoleh. Hal ini berbeda dengan penisbatan anak kepada ayahnya yang tidak diakui oleh syarak kecuali jika berasal dari hubungan pernikahan yang sah.

Bentuk pemuliaan yang lain dari Islam terhadap ibu adalah kewajiban menghormati, berbakti dan berbuat baik kepadanya. Dalam Islam tidak ada larangan untuk mengadakan suatu perayaan guna mengungkapkan rasa cinta dan bakti seorang anak kepada ibunya. Karena, hal itu tidak lebih dari sekedar permasalahan teknis yang tidak ada hubungannya dengan masalah bid'ah sebagaimana yang diklaim oleh banyak orang. Karena bid'ah yang ditolak adalah yang bertentangan dengan ajaran agama, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَمِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa yang mengada-adakan suatu perbuatan dalam urusan kami yang bukan termasuk bagian darinya, maka perbuatan itu ditolak." (Muttafaq 'alaih, dari hadits Aisyah).

Dapat dipahami dari hadits ini bahwa barang siapa yang mengada-adakan suatu perbuatan yang merupakan bagian dari agama Islam, maka perbuatan itu dapat diterima dan tidak ditolak.

Nabi saw. sendiri membiarkan bangsa Arab mengadakan perayaan untuk mengenang kemenangan-kemenangan bangsa mereka dengan melantunkan bait-bait syair tentang keutamaan suku mereka dan hari-hari kemenangannya. Hal ini sebagaimana disinggung dalam hadits yang disebutkan dalam Shahîhain dari Aisyah r.a., bahwa pada suatu hari Nabi saw. mengunjunginya. Ketika itu terdapat dua orang budak perempuan bersama Aisyah yang sedang menyanyikan lagu mengenai Hari Bu'ats (Bu'ats adalah nama sebuah daerah dekat Madinah tempat terjadinya peperangan terakhir antara suku Aus dan Khazraj, Penj.).

Dengan mengetahui makna kata "ibu" yang sangat luhur ini –baik secara terminologi, budaya dan agama—, maka kita dapat mengetahui perbedaan yang jauh antara kita dengan umat lain yang telah kehilangan nilai-nilai ikatan keluarga. Sehingga mereka pun berusaha menemukan nilai-nilai yang hilang tersebut dalam moment-moment seperti hari ibu tersebut dan mereka pun sangat berupaya untuk merayakannya. Oleh karena itu, perayaan-perayaan seperti ini bisa disebut sebagai moment untuk meminta perhatian dari anak-anak agar mengingat jasa para ibu dan agar mereka memberikan hadiah ala kadarnya kepada para ibu mereka sebagai ekspresi rasa terimakasih tersebut.

Adanya perbedaan budaya antara kita dengan orang-orang Barat – dimana realita mereka menuntut adanya perayaan-perayaan semacam ini—, tidak dapat dijadikan alasan syar'i untuk menolak berpartisipasi merayakan acara hari ibu ini. Justru kami memandang bahwa berpartisipasi dalam aktifitas-aktifitas semacam ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menyebarkan ajaran Islam yang mengajarkan kepada umatnya untuk berbakti kepada orang tua. Pemanfaatan moment semacam ini semakin urgen di saat kedurhakaan menjadi sebuah fenomena yang sangat menyedihkan seperti di zaman ini.

Rasulullah saw., tauladan terbaik kita, menyukai dan memuji orang yang berakhlak mulia walaupun berlainan agama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di antara orang-orang suku Thayyi` yang ditawan dan dibawa menghadap Rasulullah saw., terdapat seorang anak perempuan Hatim ath-Tha`iy (pembesar suku Thayyi`). Anak perempuan Hatim Tha`iy itu berkata kepada beliau, "Wahai Muhammad, saya mohon engkau membebaskan saya, sehingga suku-suku Arab tidak bergembira dengan musibah yang menimpa saya ini. Saya adalah anak pembesar suku saya. Ayah saya melindungi orang yang memerlukan perlindungan, memberikan kemudahan kepada orang yang menderita, memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang tidak mempunyai pakaian, menjamu tamu, memberi makanan kepada orang-orang, suka mengucapkan salam dan tidak pernah sekalipun menolak permintaan seseorang. Saya adalah anak Hatim ath-Tha`iy." Maka, Nabi saw. pun lalu bersabda,

يَا جَارِيَةُ، هَذِهِ صِفَةُ الْمُؤْمِنِيْنَحَقًّا، وَ لَوْ كَانَ أَبُوْكِ مُؤْمِناً لَتَرَحَّمْنَا عَلَيْهِ، خَلُّوْعَنْهَا فَإِنَّ أَبَاهَا كَانَ يُحِبُّ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ، وَاللهُ تَعَالَىيُحِبُّ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
   
"Wahai gadis kecil, semua itu adalah benar-benar sifat orang-orang yang mukmin. Seandainya saja ayahmu itu adalah seorang mukmin, niscaya kami akan mendoakannya agar mendapatkan rahmat. –Lalu Rasulullah saw. berkata kepada para sahabat--, "Bebaskanlah dia, karena ayahnya menyukai akhlak yang mulia, dan Allah SWT pun menyukai akhlak yang mulia." Abu Burdah bin Niyar r.a. lalu berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, Allah menyukai akhlak yang mulia?"

Beliau menjawab,

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لاَ يَدْخُلُالْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلاَّ بِحُسْنِ الْخُلُقِ
    
"Demi Zat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, tidak ada seorang pun yang masuk surga kecuali dengan akhlak yang mulia." (HR. Baihaqi, dari hadits Ali bin Abi Thalib).
    Rasulullah saw. juga bersabda,

لَقَدْ شَهِدْتُ فِيْ دَارِ عَبْدِ اللهِ بْنِجُدْعَانَ حِلْفاً مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمُرَ النِّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَىبِهِ فِي اْلإِسْلاَمِ لَأَجَبْتُ
   
"Saya telah menghadiri suatu kesepakatan di rumah Abdullah bin Jud'an yang lebih saya sukai dari pada memiliki onta-onta yang bagus. Seandainya saya diajak untuk melakukannya lagi dalam Islam, niscaya akan saya penuhi ajakan itu." (HR. Baihaqi, dari hadits Thalhah bin Abdullah bin Auf).

Dengan demikian, merayakan peringatan Hari Ibu adalah dibolehkan. Adapun bid'ah yang ditolak adalah bid'ah yang bertentangan dengan syariat. Sedangkan sesuatu yang hukum asalnya diakui oleh syariah tidaklah ditolak dan pelakunya tidak berdosa.
  
Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam


Dikutip dari lembaga fatwa Mesir (Dar-alifta Al-Misriyyah)
  

Previous
Next Post »