Fitnah Kubra (Part 1) : Munculnya Benih-Benih Perpecahan Dalam Islam

ilmusyariah.com | 31 Desember 2018

Fitnah Kubra (Part 1) : Munculnya Benih-Benih Perpecahan Dalam Islam



Dalam sejarah perjalanannya, umat Islam pernah mengalami peristiwa yang cukup memilukan, terutama sejak sepeninggalan Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam. peristiwa-peristiwa yang terjadi ini, selain menyebabkan terjadinya banyak pertumbahan darah umat Islam pada saat itu, juga menjadi pemicu munculnya benih-benih perpecahan umat Islam yang terjadi hingga saat ini. Peristiwa-peristiwa ini lebih dikenal dengan istilah fitnah kubra. Fitnah Kubra merupakan salah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam yang terjadi semenjak terbunuhnya khalifah ketiga Islam dimana sebelumnya dipimpin oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Ibn Khattab yaitu Utsman Ibnu Affan sebagai orang yang menjadi korban pertama.

Gejala munculnya fitnah-fitnah ni sebenarnya telah mulai nampak sejak Umar Ibn Kattab menjadi Khalifah, namun mengingat kehidupan umat Islam pada masa itu masih belum terlalu maju, selain itu umat Islam pada masa kekhalifahan Umar- Ibn Khattab masih disibukkan dengan ekspansi wilayah Islam, maka dengan ketegasan dan kesungguhan yang dimilikinya khalifah Umar masih mampu mengatasinya dengan berbagai kebijakan terutama kebijakan bagi sahabat Nabi dan para pembesar kaum Muhajirin dan Anshar. Hal ini disebabkan karena mereka mimiliki kedudukan istimewa di mata Nabi sebagai sahabat Nabi yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Kebijakan yang diambil oleh khalifah Umar adalah dengan menyerahkan kepada mereka jabatan ahlul hal wal aqdi dalam berbagai permasalahan umat Islam pada masa itu, sehingga dalam menjalankan pemerintahan khalifah Umar selalu memberikan laporan keuangan baik dari pemasukan maupun pengeluaran bagi umat Islam kepada mereka, selain itu mereka juga selalu diikut sertakan untuk bermusyawarah mengenai persoalan-persoalan besar atau berbahaya yang akan atau sedang dihadapi umat Islam.

Melimpahnya harta kekayaan umat Islam pada masa Umar ibn Khattab yang diperoleh dari hasil ekspansi besar-besaran umat Islam kala itu menyebabkan timbulnya kebingungan dan kebimbangan yang terjadi pada umat Islam hendak diapakan harta-harta tersebut. Usman bin Affan pernah mengatakan bahwa banyaknya harta kekayaan yang diperoleh oleh umat Islam bila tidak diatur dengan undang-undang yang jelas maka ditakutkan akan menimbulkan persoalan-persoalan dikemudian hari.

Pada saat Usman menjabat khalifah menggantikan sahabat Umar bin Khattab, persoalan pertama yang dihadapi oleh khalifah Utsman Ibn Affan adalah peristiwa Ubaidullah Ibn Umar, putra khalifah Umar Ibn Khattab yang membunuh Hormuzan dan Gufienah Binti Abu Lu'lu'ah. Abu Lu'lu'ah adalah pembunuh khalifah Umar dan Hormuzan adalah seorang yang dianggap komplotan Abu Lu'lu'ah yang membunuh khalifah Umar Ibn Khattab. Peristiwa ini ibarat buah simalakama bagi sang khalifah Usman yang baru sehari menjabat sebagai khalifah menggantikan khalifah Umar Ibn Khattab. Dimana satu sisi, sang khalifah Usman harus mempertimbangkan perasaan keluarga Al-Khattab dan keluarga bani Uday secara umum jika hukum qisas terhadap Ubaidillah dilaksanakan. Selain perubahan yang terjadi pada dua keluarga tersebut, jika hukum qisas dilaksanakan juga akan membuat hati bangsa Quraisy ikut berubah juga. Namun, bila ampunan diberikan begitu sajadan hukuman qisas tidak dilaksanakan maka pintu pertikaian dalam tubuh umat Islam akan semakin terbuka dan akan sulit untuk menutupnya kembali.

Persoalan yang lain yang terjadi pada masa pemerintahan khalifah Usman adalah terjadinya apa yang ditakutnya khalifah Usman sebelum mendapat amanah menjadi amirul mukminin, yaitu persoalan harta kekayaan umat Islam, terutama semenjak khalifah menerapkan kebijakan mengenai pengelolaan keuangan yang menyebabkan terjadinya kehancuran ekonomi. Kehancuran ekonomi yang dialami umat Islam pada masa khalifah Usman ini terjadi semenjak khalifah Usman bin Affan mengizinkan siapapun dari penduduk Arab menjual tanah dan harta mereka di wilayah, lalu menukarkannya dengan tanah di jazirah Arab. Salah satu akibat dari kebijakan ini adalal munculnya tuan-tuan tanah di dunia Islam, hal ini memicu umat Islam yang memiliki harta kekayaan yang lebih untuk menambah terus luas tanah untuk dimiliki, sehingga terbentuklah kelompok pekerja dan buruh dalam tubuh umat Islam, kemudian mereka melihat dirinya memiliki keistimewaan dibanding yang lain, mereka lalu bersaing untuk memenuhi dan meruruti obsesi dan nafsu, yang pada akhirnya akan berujung pada persaingan dalam kepemimpinan dan kekhalifahan. Salah satu peristiwa yang terjadi pada masa ini adalah pembunuhan yang terjadi terhadap sang khalifah usman itu sendiri.

Kebijakan dalam mengatur keuangan yang diterapkan oleh khalifah Utsman Ibn Khattab sejak menjadi khlifah ketiga umat Islam adalah segmen yang sering dicela dalam sejarah. Menurut kalangan mutakallimin, segmen ini dipenuhi dengan berbagai perdebatan, satu sisi pembelaan dari kalangan ahlusunnah dan mu'tazilah serta disisi lain celaan dari kalangan syiah dan khawarij. Namun, dalam menafsirkan kebijakan yang diambil oleh khalifah Utsman Ibn Affan perlu diperhatikan bagaimana pandangan khalifah Usman Ibn Affan terlebih dahulu, bahwasanya menurut sang khalifah rakyat tidak memiliki hak untuk mengawasinya ataupun menghukumnya karena sang khalifah telah mengikrarkan janjinya dan bertanggungjawab atas janji-janjinya tersebut dihadapan Allah. Artinya sang khalifah memiliki hak prerogratif atau hak veto seorang pemimpin untuk mengelola keuangan negara, selama beliau memiliki pendapat akan adanya sebuah maslahat bagi umat Islam dibalik semua itu. dalam hal ini, sang khalifah memilikiwewenang untuk menggunakan harta untuk kepentingan dirinya, keluarganya dan orang-orang yang dianggapnya butuh dan tidak ada larangan hdan kesalahan dalam hal ini, akan tetapi satu-satunya poin yang tidak dijelaskan oleh pakar sejarah secara terperinci adalah bahwa sang khalifah Utsman Ibn Affan sebelum menerima amanah menjabat sebagai khalifah menggantikan khalifah Umar Ibn Khattab merupakan seorang yang kaya raya dan saudagar yang ulung, dimana harta yang dimilikinya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga maupun orang-orang disekelilingnya meskipun sang khalifah telah memundurkan diri dari pekerjaannya sebagai saudagar demi mengurusi permasalahan umat Islam sebagai seorang khalifah.

Meskipun demikian, nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi dan berlalu, fitnah-fitnah yang muncul sejak awal telah berhasil membuat sang khalifah umat Islam terbunuh dan pasca terbunuhnya sang khalifah, umat Islam dihadapkan hanya pada dua jalan. Pertama, jalan yang dibuka oleh Rasulullah Shallahu "alaihi Wasallam dan ditegakkan oleh  dua sahabat yang telah menjadi khalifah sebelum khalifah Usman, yaitu jalan yang tidak ditegakkan atas dasar kekuasaan dan kekuatan, akan tetapi ditegakkan berdasarkan asas kasih sayang dan keadilan, sementara kekuatan hanya dijadikan sebagai alat atau wasilah untuk menjalankannya, tidak mengenal kekerasan dan paksaan, tidak menyelesaikan permasalahan dunia dengan metode dunia semata, semua dilakukan dengan mengikutsertakan agama didalamnya, yaitu dengan amar ma'ruf nahi mungkar, menyebarkan kebaikan dan meninggalkan keburukan yang merupakan wasilah untuk menuju dunia baru yang lebih baik, lebih berwibawa, lebih bermartabat dan sejahtera.

Sementara jalan kedua, yaitu jalan kekuasaan, yang berjalan atas dasar kekuatan dan kepentingan. menyelesaikan permasalahan dunia dengan mengesampingkan agama, yaitu menguasai, mengalahkan dan menguatkan diri sendiri, dan menakhlukkan yang lemah dan mendudukinya. Jalan inilah yang dipilih oleh kebanyakan pemimpin umat Islam sejak benih-benih perpecahan dalam Islam muncul sebagai Fitnah Kubra, terutama setelah masa khulafah ar-rasyidin berakhir, meskipun masih ada sebagian para pemimpin Islam sejak munculnya benih-benih perpecahan dalam tubuh umat Islam yang memilih jalan terdahulu mereka, yaitu Rasulullah dan para sahabatnya. Namun, kekisruhan dan kekacauan yang pada awalnya hanya bersifat politis ini berubah menjadi dogma-dogma yang pada akhirnya menjadi ideologi baru yang melahirkan beberapa kelompok dalam Islam dengan menjadikan sahabat-sahabat terdekat Rasulullah Saw. seperti Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib sebagai korban sebagai benih awal perpecahan yang akan muncul dan terjadi dalam tubuh umat Islam sampai hari ini.

Wallahu A'lam.



Bersambung... (Part 2)








Referensi:
Sirah Ibn Hisyam
Thabaqat Ibn Sa'ad
Ansab Al-Asyraf lil Baladzary
Fitnah Al-Qubra (Utsman Ibn Affan)
Previous
Next Post »