Adakah Larangan Menjadikan Pengeras Suara Sebagai Pedoman Dalam Pelaksanaan Shalat Berjamaah


Apakah jamaah laki-laki/perempuan yang berada di luar masjid boleh mengikuti gerakan shalat imam yang ada di dalam masjid dengan mengandalkan pengeras suara (microphone) padahal keduanya dipisahkan oleh jalan umum? Bagaimana jika tiba-tiba listrik padam ketika mereka sedang melaksanakan shalat?


Dalam Ilmu Fiqh, syarat sah seorang makmum agar dapat mengikuti imam dalam shalat berjamaah adalah dengan mengetahui setiap gerakan imam, baik dengan suara atau melihat secara langsung dan bersambungnya shaf. Hal ini sesuai dengan riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. pernah shalat di kamar Aisyah r.a. sementara para sahabat mengikuti shalat beliau dari dalam masjid (rumah Rasulullah saw. berada disebelah timur bangunan mesjid dandimana satu pintu sebelah timur menghadap ke jalan dan sebelah barat langsung kedalam mesjid). 

Namun, dalam keadaan darurat dibolehkan melaksanakan shalat berjamaah meskipun terdapat pembatas yang menghalangi bersambungnya shaf. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni berkata, "Jika diantara imam dan makmum terdapat jalan atau sungai yang dilewati oleh kapal-kapal, atau keduanya melakukan shalat di dalam dua perahu yang berbeda, maka terdapat dua pendapat tentang hal ini:
  • Pertama: Tidak sah bermakmum kepada imam itu. Ini adalah pendapat para ulama dalam mazhab kami dan pendapat Abu Hanifah. Hal itu karena jalan bukanlah tempat untuk shalat, sehingga ia serupa dengan sesuatu yang menghalangi bersambungnya shaf. 
  • Kedua: Sah bermakmum kepadanya. Ini adalah pendapat yang benar menurut saya, dan merupakan pendapat Malik dan Syafi'i. Hal itu karena tidak ada dalil (nash) yang melarangnya, tidak pula ijmak atau sesuatu yang serupa denganya. Di samping itu, kondisi di atas tidak menghalangi makmum mengikuti imam, sedangkan yang mempengaruhinya keabsahannya adalah sesuatu yang menghalangi makmum untuk melihat imam atau mendengar suaranya." Demikian penjelasan Ibnu Qudamah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka menurut syarak tidak ada halangan bagi jamaah perempuan untuk bermakmum dari tempat mereka kepada imam yang ada di masjid jika terpenuhi syarat-syarat dalam bermakmum, seperti mampu mengikuti setiap gerakan imam meskipun melalui pengeras suara (microphone). Jalan yang memisahkan antara kedua tempat shalat itu juga harus ditutup selama pelaksanaan shalat. Selain itu, posisi shalat jamaah perempuan harus berada sejajar atau di belakang posisi imam.

Jika tiba-tiba listrik padam ketika sedang melaksanakan shalat sehingga jamaah perempuan tidak dapat mengikuti gerakan imam, maka mereka menyempurnakan shalat mereka sendiri-sendiri dikarenakan kondisi darurat itu. Di samping itu juga, karena seseorang tidak boleh menggantikan posisi imam kecuali imam menunjuk untuk menggantikannya. Jika semua itu dilakukan maka dengan izin Allah shalat mereka sah.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.




Dikutip dari Lembaga Fatwa Mesir

Previous
Next Post »