Bagaimana Agar Shalat Bisa Khusy'uk ???




Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS. Al Mu’minuun 23 : 1-2).

Apa itu Khusyuk?

Ibnu Faris rahimahullah, salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa mengatakan, bahwa khusyuk secara bahasa berarti tunduk atau merendah. Sementara secara istilah, para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Al-Baghawi rahimahullah menukilkan beberapa penafsiran ulama tentang khusyuk dalam shalat sebagaimana yang disebutkan dalam ayat diatas, Diantara penafsiran ulama tentang makna khusyuk, Ibnu ‘Abbas berkata bahwa khusyuk berarti tenang dan merendahkan diri, Al-Hasan (Al-Bashri) dan Qatadah menafsirkan, (yaitu) orang-orang yang takut, Muqatil menyatakan: (yaitu) orang-orang yang rendah hati (tawadhu’) dan Mujahid berkata yaitu menundukkan pandangan dan merendahkan suara. Meskipun penafsiran tersebut berbeda, ungkapannya, namun satu sama lain tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi, karena sebagian ahli tafsir menjelaskan makna khusyuk dari sisi lahiriyah dan sebagian lagi menjelaskan makna khusyuk dari sisi batin. 

Al-Baghawi rahimahullah, dalam kitab Tafsir Al-Bahgawi karyanya melanjutkan, Ali radhiyallahu ‘anhu dalam mendefinisikan makna khusyuk , yaitu tidak menoleh ke kanan dan tidak pula ke kiri dalam shalatnya. Sa’id bin Jubair berkata yaitu (seseorang) tidak mengetahui siapa orang yang di sebelah kanan dan kirinya, ia tidak menoleh, karena demikian khusyuknya (menghadap kepada) Allah ‘Azza wa Jalla. ‘Amr bin Dinar berkata, yaitu ketenangan dan keindahan keadaan (gerakan). Adapun Ibnu Sirin dan yang lainya menafsirkan, yaitu Anda tidak mengangkat pandanganmu dari tempat sujudmu.

Cara Agar Shalat Khusyuk Ala Hatim Al-Asham Rahimahullah


DIKISAHKAN bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat hati hati dan terkenal sangat khusyu' shalatnya. Namun demikian dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyu' dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusy'uk.


Pada suatu hari Isam bin Yusuf menghadiri majelis seorang ulama zuhud, juga  bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: “Wahai Hatim, bagaimanakah caranya Anda shalat?” Berkata Hatim: “Apabila masuk waktu shalat, aku berwudhu’ lahir dan batin.” Bertanya Isam: “Bagaimana wudhu batin itu?” Berkata Hatim: “Wudhu lahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu’ dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan 7 perkara:

  • Bertaubat. Meninggalkan maksiat.
  • Menyesali dosa yang telah dilakukan.
  • Tidak tergila-gila dengan dunia.
  • Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia
  • Meninggalkan sifat bermegah-megahan.
  • Meninggalkan sifat khianat dan menipu.
  • Meninggalkan sifat dengki.”

Seterusnya Hatim berkata, “Kemudian aku pergi ke Masjid, kusiapkan semua anggota tubuhku. Aku berdiri menghadap Allah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku.


Dan kubayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratul Mustaqim’ dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat terakhir bagiku (karena aku merasa akan mati setelah shalat ini).



Kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. Setiap bacaan dan do’a dalam shalat aku fahami maknanya. Kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadu’ (merasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku shalat selama 30 tahun.


Ketika Isam mendengar penjelasan itu, menangislah ia sekuat-kuatnya. Ternyata ibadahnya kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.



Wallahu A'lam

Referensi:

1. Khusy'uk fi Shalah fi Dau'i Al-Kitab wa As-sunnah
2. Tafsir Al-Baghawi
3. Hilyati Al-Auliyaa wa At-Tibqaati Al-Ashfiyaa'
Previous
Next Post »