Gelar Keilmuwan Dalam Ilmu Agama

ilmusyariah.com | 09 Maret 2019



Dalam dunia akademik, gelar tertinggi yang dapat diperoleh oleh seseorang dalam menempuh pendidikan adalah Doktor (bahasa Inggrisdoctor). Gelar ini diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan pada tingkat strata-3 (S3) atau Doctor of Philosophy (PhD, Ph.D., or DPhilLatin philosophiae doctor or doctor philosophiae)Biasanya, pemberian gelar doktor dilakukan setelah seseorang melakukan penelitian akademik dan mempertahan kan hasil yang diperolehnya dalam sebuah ujian yang dilakukan oleh dewan pengajar di universitas tempat dia belajar atau profesor serta peneliti ahli dalam sebuah bidang sebagai bukti bahwa ia telah mencapai tingkat tertinggi dalam dunia akademik.

Berbeda dengan ilmu agama (ilmu syariah), dimana banyak para ulama menganggap level tertinggi dalam pendidikan ilmu agama bukanlah disaat seseorang berhasil menyelesaikan program pendidikan pada tingkat tertinggi dalam dunia akademik, yaitu program pendidikan doktor. Meskipun demikian, menyelesaikan pendidikan hingga pada tingkat doktor tetap dianggap penting, bahkan hukumnya dianggap sebagai "fardhu kifayah", yaitu kewajiban terutama bagi mereka yang akan menyebarkan ilmu melalui dunia akademisi atau kampus. Namun, mereka tetap selalu menekankan bahwa "kampus bukanlah tempat yang menjadikan seseorang 'alim" atau "ilmu syariah diperoleh bukan di kampus, tetapi melalui talaqqi".

Talaqqi secara ilmu linguistik berarti bertemu langsung, metode talaqqi ini merupakan metode yang dilakukan oleh Rasulullah saw disaat mengajarkan para sabahat. Metode ini terus dilaksanakan oleh para masyaikh dalam menurunkan ilmu yang mereka peroleh secara bersanad hingga pada Rasul kepada murid-muridnya, sehingga ilmu yang diajarkan lebih terjaga dengan pemahaman yang lebih tepat. Suatu hari Imam Nawawi masuk angin. Beliau yang ketika itu berusia sekitar 18 tahun mengalami demam karena terlalu sering mandi. Merasa ada yang aneh, beliau menghadap kepada gurunya untuk mendapat pencerahan. Usut punya usut ternyata itu bersumber dari muthala’ah (mengkaji) sendiri kitab yang menjelaskan hal-hal yang mewajibkan mandi, namun ternyata pemahaman beliau belum tepat. Tidak dengan metode talaqqi. Kitabnya benar tapi pemahaman kurang tepat karena belum ditashih kepada guru bisa berakibat fatal

Dari sisi keilmuwan khususnya ilmu syariah, gelar doktor yang dimiliki seseorang tidak menjamin seseorang memiliki ilmu yang tinggi atau 'alim. Pada banyak kejadian, seseorang yang belajar langsung (bertalaqqi) beberapa tahun bersama para ulama (masyaikh) akan jauh lebih 'alim atau memiliki ilmu pengetahuan agama yang lebih tinggi dari kebanyakan orang yang memperoleh gelar "doktor". para ulama sering mengatakan bahwa "ilmu syariah menjadi turun kualitasnya semenjak huruf د (doktor) menyebar", dll. Meskipun demikian, para Masyaikh juga terus mendorong para muridnya untuk menyelesaikan pendidikannya hingga pada level tertinggi. Hal ini dilakukan agar kampus atau dunia akademik tidak dikuasai oleh akademisi-akademisi yang tidak pernah bermulazamah dengan Masyaikh, yang menyebabkan terjadinya kerancuan terhadap pemahaman dalam ilmu agama.

Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi pernah memberikan nasehat,"Janganlah kalian (para muridnya) berhenti untuk bertalaqqi, ilmu sebenarnya bukan yang kalian dapatkan di kampus-kampus, tetapi bersama para Masyaikh, dan itu diperoleh melalui dars khas (kelas khusus) dan bertalaqqi. Begitulah kami dahulu menuntuk ilmu, begitu juga ulama-ulama terdahulu, semuanya mengambil jalan dengan bermulazamah bersama para Masyaikh. Wallahu A'lam

Previous
Next Post »