Pembangunan Manusia Dalam Literatur Islam

ilmusyariah.com | 28 Februari 2018




Islam adalah agama yang sempurna dan komprehensif bagi manusia, setiap manusia tentu saja berharap untuk memperoleh kesejahteraan dalam hidupnya, namun kesejateraan dalam Islam meliputi kesejahteraan dalam menjalani hidup di dunia maupun kesejahteraan pada kehidupan di akhirat. Konsep kesejahteraan seperti ini dalam Islam dikenal dengan konsep maqashid asy-syariah, yaitu sebuah konsep yang mempromosikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia yang terletak dalam menjaga keimanan, menjaga diri, kecerdasan, keturunan dan kekayaan.

Konsep kesejahteraan sebagaimana dijelaskan di atas, sangat erat kaitannya dengan konsep pembangunan manusia yang dipopulerkan oleh United Nations Development Programme (UNDP). Dalam konsep pembangunan manusia ini, UNDP menjadikan pembangunan manusia sebagai standar untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia dengan menggunakan metode indeks pembangunan manusia (IPM). Dalam menentukan nilai IPM, salah satu indikator yang digunakan adalah indikator pendidikan  yang juga merupakan bagian dari konsep kesejahteraan yang dijelaskan dalam Islam, yaitu konsep maqashid asy-syariah.

Sebagai indikator dalam mengukur tingkat kesejahteraan manusia, maka tidaklah heran jika pendidikan menjadi salah satu bagian terpenting dalam Islam. Banyak ayat dalam al-quran dan hadist yang membahas tentang bagaimana pandangan Islam terhadap pendidikan, bahkan ayat pertama yang diwahyukan untuk nabi Muhammad Saw. mengandung sugesti tentang pentingnya pendidikan. 

Allah Swt. Berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ( ) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ( ) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ( ) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ( ) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ()

"Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. Al-'Alaq :1-5)

Sebuah kenyataan yang cukup mengagumkan bahwa nabi Muhammad Saw. adalah seorang nabi yang "ummi" yaitu tidak bisa membaca dan menulis, sementara beliau diutus ditengah-tegah umat yang juga buta huruf. Meskipun demikian, nabi Muhammad Saw. justru menjadi pelopor dalam menggembar-gemborkan "pena", yaitu, bagaimana membebaskan umatnya dari zaman buta huruf. 

Sebagai seorang nabi dan juga seorang pemimpin, Rasulullah tidak hanya mengajarkan kepada kaum muslimin tentang bagaimana cara beribadah semata. Namun, tidak terlepas dari tujuan utama beliau diutus ke muka bumi ini, Rasulullah juga mengajarkan kepada umat manusia tentang bagaimana cara untuk memperoleh kebahagiaan dengan memperoleh pendidikan yang layak, sebagaimana yang dijelaskan dalam konsep maqashid asy-syariahSebuah ungkapan yang dinukilkan dari Imam Syafií sebagaimana dikutip dalam mukaddimah kitab Mughni Muhtaj karya Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Khatib As-Syarbaini mengatakan bahwa:


مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ  وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ 

"Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dalam kehidupan dunia maka dengan berilmu. Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) pada kehidupan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan (Kebahagiaan) pada keduanya, maka hendaklah dengan ilmu."

Bagaimana pendidikan mampu memberikan pengaruh besar dalam kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, maka tidak mengherankan jika Rasulullah Saw. terus menggalakkan kaum muslimin untuk terus belajar, menulis dan membaca. Bangsa arab saat itu adalah bangsa yang dikenal dengan sebutan "bangsa buta huruf" oleh bangsa-bangsa lain, bahkan dalam Al-quran dijelaskan:

....هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka...." (QS. Al-Jumu'ah :2)

Meskipun sebagian besar bangsa Arab saat itu buta huruf, tapi beberapa suku dari golongan bangsawan yang berasal dari kota Makkah seperti suku Arab Quraisy dikenal sebagai suku yang memiliki pendidikan diantara bangsa Arab yang mampu membaca dan menulis. Sehingga, ketika ada kesempatan Rasulullah Saw. untuk mengajarkan kaum muslimin yang buta huruf untuk dapat membaca dan menulis, selalu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kesempatan pertama Rasulullah melakukan hal ini adalah ketika terjadinya peristiwa perang Badar, dimana Rasulullah menjadikan para tawanan perang Badar yang mampu membaca dan menulis untuk mengajarkan ilmunya tersebut kepada kaum muslimin sebagai tebusan perang.


Sebagaimana yang dikutip dalam kitab Ar-Rasul Wal Ílmu karya Syeikh Muhammad Yusuf Qardhawy, disebutkan bahwa Ibnu Saád mengisahkan dari Amr Asy-Sya'bi: "Pada saat peristiwa perang Badar, Rasulullah SAW menawan tujuh puluh orang tawanan dari pasukan kaum kafir Quraisy, mereka ditebus sesuai dengan kemampuan harta yang mereka miliki. Namun, kebijakan Rasulullah yang dilakukan pada saat itu berbeda dengan kebiasaan bangsa Arab dalam melakukan penebusan terhadap tawanan perang. Pada kesempatan ini, Rasulullah SAW memberikan kesempatan bagi para tawanan perang yang mampu membaca dan menulis untuk menebusnya dengan mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh orang kaum Muslimin untuk setiap satu orang tawanan perang, jika berhasil maka telah dianggap sebagai tebusannya.

Disebutkan pula dalam kitab tersebut, bahwa Zaid bin Tsabit yang dikenal sebagai salah seorang penulis wahyu termasuk salah satu diantara sekian banyak kaum muslimin yang diajarkan membaca dan menulis oleh tawanan perang Badar dari kaum kafir Quraisy. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan yang ingin dicapai nabi bukan hanya sekedar mampu membaca dan menulis saja, tetapi mencapai tingkat "menguasai", sehingga umat Muslimin dan bangsa Arab secara umum tidak kembali lagi ke zaman buta huruf, artinya Rasulullah SAW berhasil meningkatkan kualitas intelektual umat Islam saat itu yang menjadi salah indikator dalam pembangunan manusia, yaitu pendidikan.

Wallahu Á'lam

Previous
Next Post »