Pertanyaan Sulit Untuk Imam Al Ghazali

ilmusyariah.com | 29 Maret 2019




Imam Abu Hamid Al Ghazali At-Tusy  Asy-Syafi'i yang digelar Hujjatul Islam, Seorang mujtahid besar pada zamannya dan menjadi rujukan para ulama-ulama setelahnya hingga hari ini, beliau memiliki cukup banyak murid. Banyak ulama menghadiri majelis yang beliau asuh. Iya, ratusan ulama. Hal ini kemudian ditenggarai membuat beliau takut, bahwa apa yang beliau lakukan tidak lagi berdasarkan amanah keilmuan. Tapi sudah tercampur dengan popularitas dan kehormatan.
Suatu hari seorang murid bertanya kepada beliau, "Wahai Imam, tadi engkau membawakan ayat kulla yaumin huwa fi sya'n (setiap hari Allah Swt melakukan kesibukan)," Lalu apa kesibukan Allah hari ini?
Imam Al Ghazali terdiam. Beliau merenung. Tak menyangka akan mendapatkn pertanyaan ini. Ketika itu beliau adalah orang yang diakui paling alim pada masanya. Namun dengan penuh kerendahan hati, beliau berkata, "Beri saya waktu untuk menemukan jawabannya sampai esok hari." Keesokan harinya sang murid menanyakan jawaban perihal pertanyaan yang diajukan pada pertemuan sebelumnya, namun sang guru masih belum menemukan jawabannya. Kejadian seperti ini terus terjadi hingga beberapa hari, sehingga menjadikan sang guru merasa malu dan bertekad untuk segera mengakhirinya, kemudian beliau berkata kepada muridnya itu, "Untuk terakhir kali, beri saya waktu untuk menemukan jawabannya sampai esok hari" Demikianlah akhlak ulama Rabbani. Ini salah satu pertanyaan tersulit yang pernah beliau hadapi.
Setelah pertemuan tersebut, beliau kemudia pulang ke rumahnya dan sepanjang malam beliau meneliti berbagai kitab, shalat lalu berdoa dengan penuh kesungguhan, agar Allah membukakan pintu pemahaman atas pertanyaan yang diajukan tadi, sampai sampai beliau tertidur didalam muzakarahnya. Kemudian baru Imam Al Ghazali menemukan jawabannya yang didapat melalui mimpi bertemu dengan Rasulullah yang datang ke dalam mimpi beliau, lalu mengajarkan beliau jawaban atas pertanyaan tadi, "Allah Swt hari ini membagi rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki, mengangkat derajat siapa yang Ia kehendaki, menutup aib siapa yang ia kehendaki ..."

Ketika shalat subuh keesokan harinya, mesjid sudah penuh, masyarakat memadati seluruh mesjid menanti jawaban sang Imam. Selesai shalat beliau bertanya, "Manakah penanya yang kemarin menanyakan ma sya'nu rabbika al yaum (Apa yang sedang dilakukan Tuhanmu hari ini)." Orang tersebut pun mengangkat tangan. Lalu Imam Al Ghazali menjawab persis sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah di dalam mimpi beliau.
Setelah mendengar jawaban tersebut, sang penanya spontan mengatakan, " Bershalawatlah wahai Imam kepada orang yang telah memberitahukan kepadamu jawaban tersebut melalui mimpi." Dan Imam Al Ghazali-pun seketika terpana. Ternyata sang penanya "bukan orang biasa."
Previous
Next Post »