Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Matahari Pernah Berhenti Bergerak Karena Urusan Jihad Seorang Nabi


✅ Pernahkah anda mendengar kisah Nabi Musa dengan Khidhir alaihimassalam?

✅ Tahukah anda seorang pemuda yang membersamai Nabi Musa dalam perjalanan menemui Khidhir yang disebutkan dalam Surat Al-Kahfi ayat 60-64?

✅ Dialah Yusya’ bin Nun, murid Nabi Musa alaihimassalam yang menjadi pemimpin Bani Israil sepeninggal Nabi Musa yang wafat di padang ‘tih’ dan setelah Nabi Harun yang juga wafat di sana kurang lebih 2 atau 3 tahun sebelum wafatnya Nabi Musa. 

✅ Bani Israil diberi sanksi tersesat tak bisa keluar selama 40 tahun di padang ‘tih’ karena menolak perintah Allah agar mereka masuk ke Baitul Maqdis berjihad bersama Nabi Musa dan Nabi Harun melawan bangsa penindas yaitu Kan’aniyyin (lihat: QS. Al-Maidah: 21-26). 

✅ Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya Qashash Al-Anbiya (2/197) bahwa semua orang yang membangkang perintah jihad mati di padang ‘tih’ kecuali Yusya’ bin Nun dan Kalib bin Yufanna (sebagian riwayat menyebutnya Kilab bin Yafinna), karena mereka berdualah diantara dua belas naqib Bani Israil yang tidak menolak berjihad, bahkan mengingatkan yang lain dengan ungkapan:

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. Al-Maidah: 23).

✅ Yusya’ bin Nun inilah yang memimpin generasi kedua Bani Israil melaksanakan perintah jihad melawan Kan’aniyyin di Baitul Maqdis. Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa penyiapan generasi kedua ini telah dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun sebelum mereka wafat, kemudian dilanjutkan oleh Yusya’ bin Nun yang juga dipilih menjadi Nabi untuk Bani Israil.

✅ Nasab lengkapnya adalah Yusya’ bin Nun bin Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub (Israil) bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihimussalam. Beliau diangkat sebagai Nabi untuk Bani Israil di akhir kehidupan Nabi Musa ‘alaihissalam.

✅ Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahihnya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "غزا نبي من الأنبياء، فقال لقومه: لا يتبعني رجل ملك بضع امرأة، وهو يريد أن يبني بها؟ ولما يبن بها، ولا أحد بنى بيوتا ولم يرفع سقوفها، ولا أحد اشترى غنما أو خلفات وهو ينتظر ولادها، فغزا فدنا من القرية صلاة العصر أو قريبا من ذلك، فقال للشمس: إنك مأمورة وأنا مأمور اللهم احبسها علينا، فحبست حتى فتح الله عليه، فجمع الغنائم، فجاءت يعني النار لتأكلها، فلم تطعمها فقال: إن فيكم غلولا، فليبايعني من كل قبيلة رجل، فلزقت يد رجل بيده، فقال: فيكم الغلول، فليبايعني قبيلتك، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده، فقال: فيكم الغلول، فجاءوا برأس مثل رأس بقرة من الذهب، فوضعوها، فجاءت النار، فأكلتها ثم أحل الله لنا الغنائم رأى ضعفنا، وعجزنا فأحلها لنا"

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Ada seorang Nabi hendak berperang, maka ia bersabda kepada kaumnya: “Jangan ada seorang laki-laki pun yang mengikutiku (dalam jihad) kalau ia sudah punya istri yang sah namun belum berhubungan dengannya, juga orang yang membangun rumah tapi belum membuat atapnya, juga orang yang membeli kambing atau unta hamil sementara ia menanti kelahiran anaknya.” Lalu berperanglah ia hingga mendekati lokasi wilayah (musuh) di waktu Ashar atau mendekati Ashar, maka ia bersabda kepada matahari: “Sesungguhnya engkau diperintahkan (untuk terbenam) dan akupun diperintahkan (untuk berjihad). Ya Allah, tahanlah ia di atas kami.” Maka matahari pun tertahan hingga Allah memenangkannya. Ia pun mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang), lalu api datang (dari langit) menyambar ghanimah namun tidak membakarnya. Ia pun bersabda (kepada pasukan): “Berarti diantara kalian ada ghulul (ghanimah yang disembunyikan). Setiap kabilah harus diwakili oleh seorang laki-laki untuk berbaiat kepadaku.” Ada tangan seorang laki-laki menempel (tak bisa lepas) dari tangannya. Ia pun bersabda: “Ghulul itu ada diantara kalian. Semua anggotamu harus membaiatku.” Maka ada tangan dua atau tiga orang yang menempel dengan tangannya. Ia pun bersabda: “Ghulul itu ada pada kalian.” Mereka pun menyerahkan kepala sapi terbuat dari emas lalu meletakkannya (bersama ghanimah lain), dan api pun datang membakar semuanya. (Rasulullah ﷺ bersabda): “Kemudian Allah menghalalkan ghanimah untuk kita. Dia melihat kelemahan dan ketidakberdayaan kita (dalam membaiayai perjuangan), maka Dia halalkan untuk kita."

(HR. Al-Imam Al-Bukhari no 3124). 

✅ Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no 1747. Para pensyarah hadits ini menyebutkan bahwa nabi yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun berdasarkan riwayat-riwayat lain yang tegas menyebutkan namanya, diantaranya Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/325) dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/139).

✅ Dalam syariat Bani Israil ketika itu, ada larangan berperang di hari Sabtu dimulai sejak malamnya saat terbenam matahari pada hari Jum’atnya. Pengepungan Baitul Maqdis yang dikuasai musuh berlangsung selama enam bulan, dan saat hampir berhasil ditaklukan adalah Jum’at sore, sehingga Yusya’ bin Nun memohon kepada Allah agar matahari berhenti bergerak sehingga mereka dapat menaklukan musuh sebelum ia terbenam, dan Allah mengabulkan doanya. 

✅ Di dalam syariat sebelum Nabi Muhammad ﷺ ghanimah (harta rampasan perang) hukumnya haram diambil oleh siapapun. Dan di dalam syariat Bani Israil ghanimah harus dikumpulkan untuk kemudian dibakar oleh api yang datang dari langit. Ghanimah tidak akan terbakar jika masih ada yang disembunyikan oleh pasukan seperti yang terjadi pada pasukan Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam.

📕 Beberapa hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut:

1. Jihad dalam arti khusus yaitu berperang melawan orang-orang kafir yang zalim (diistilahkan dalam kisah Bani Israil dengan Jabbarin) adalah syariat Allah sejak Nabi-Nabi terdahulu sampai hari kiamat. Kedudakannya amat mulia, sehingga Allah ta’ala berkenan menghentikan matahari untuk membantu jihad seorang Nabi. Kemuliaan jihad diantaranya terletak pada fungsinya membebaskan manusia dari penindasan orang-orang kuat yang zalim. (Lihat QS. An-Nisa: 75-76).

2. Disamping memerlukan ilmu dan ketrampilan, jihad memerlukan fokus yang luar biasa, sehingga Yusya’ bin Nun melarang mereka yang tidak bisa fokus ikut berjihad.

3. Kemuliaan Bani Israil yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah karena banyaknya Nabi yang diutus dari kalangan mereka dan ditampakkannya kekuasaan Allah kepada mereka melalui berbagai mukjizat nabi-nabi mereka. Namun kemuliaan ini mereka rusak dengan berulang kali menyakiti para nabi dengan membangkang perintah, bahkan tidak sedikit nabi yang mereka bunuh, sehingga Allah ganti dengan laknat dan kehinaan. (Lihat diantaranya QS. Al-Maidah: 18, 78-79, Al-Baqarah: 87-88, Ash-Shaf: 5, Al-Jumu’ah: 6-7).

4. Kekuasaan Allah tidak terbatas, dan semua makhlukNya dapat menjadi bala tentara yang membantu jihad orang-orang yang beriman, jika Allah menghendaki.

5. Kasih sayang Allah begitu besar kepada ummat Nabi Muhammad ﷺ sehingga berbagai hukum yang relatif berat bagi ummat-ummat terdahulu tidak disyariatkan kepada ummat beliau ﷺ.

📕 Sumber : Qashash Al-Anbiya, Ibnu Katsir, 2/197-213.

Posting Komentar untuk "Matahari Pernah Berhenti Bergerak Karena Urusan Jihad Seorang Nabi"