Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala (A-007 Bagian 5)


📚 Apa Makna Kaifiyat dalam Konteks Sifat Allah ?

✅ Kata kaifiyat (الكيفية) dalam bahasa Arab berasal dari kata kaifa (كيف), yang berarti pertanyaan tentang keadaan (bagaimana/how), atau ungkapan keheranan terhadap suatu keadaan. Jadi kaifiyat berarti gambaran keadaan sesuatu.

✅ Sedangkan maksud kaifiyat dalam konteks sifat Allah itu ada dua:

1. Kaifiyat yang bermakna التَّشْخِيصُ (personifikasi / spesifikasi keadaan) dan التَّجْسِيْمُ (penentuan bentuk jasad / tubuh), melalui sifat-sifat yang biasa dikenal pada setiap benda atau makhluk, baik makhluk nyata maupun makhluk ghaib, seperti ukuran besar, kecil, panjang, tinggi, rupa, warna, posisi tempat, perpindahan tempat, dan sejenisnya. 

✅ Inilah yang menjadi objek tanzih (penyucian) oleh para ulama dari Dzat dan Sifat Allah ta’ala. Makna lahiriyah atau mafhum dari tangan, mata, turun, dan sejenisnya tidak dapat dilepaskan dari kaifiyat ini seperti yang telah dijelaskan pada materi A-007 (Bag-4) sebelum ini.

✅ Kaifiyat ini mustahil bagi Allah karena mengandung tasybih. Karena mustahil bagi Allah, maka kaifiyat ini tidak ada yang perlu ditafwidh kepada Allah, sebab yang perlu ditafwidh hanya yang ada wujudnya namun kita tidak tahu hakikatnya.

✅ Kaifiyat dengan arti seperti inilah yang ditolak atau dinafikan wujudnya oleh para ulama baik salaf maupun khalaf dalam ungkapan-ungkapan mereka.

2. Kaifiyat yang bermakna حَقِيقَةُ الذَّاتِ وَكُنْهُهَا yaitu hakikat Dzat dan seluruh Sifat Allah, tidak hanya sifat khabariyah. Tentu saja hakikat Dzat dan Sifat Allah itu ada, tapi dengan segala keterbatasan, mustahil kita mengetahuinya. 

✅ Kaifiyat dengan arti yang ini jelas wajib ditafwidh kepada Allah ta’ala. Inilah yang dimaksud oleh para ulama salaf maupun khalaf ketika mereka menyatakan bahwa kaifiyat sifat Allah itu tidak diketahui.

✅ Dengan demikian tidak ada kontradiksi diantara ungkapan para ulama tentang ada atau tidak ada kaifiyat bagi sifat Allah jika kita memahami maksud mereka dengan salah satu diantara dua makna di atas.

📎 Ungkapan al-Imam Malik bin Anas

✅ Para ulama menemukan dua jenis redaksi dari al-Imam Malik bin Anas, yang satu menyatakan bahwa kaifiyat itu tidak ada, dan yang kedua menyatakan kaifiyat itu tidak diketahui. 

✅ Redaksi yang menafikan wujud kaifiyat maksudnya adalah kaifiyat yang berarti personifikasi atau spesifikasi keadaan atau penentuan bentuk. 
✅ Sementara redaksi yang menyatakan kaifiyat tidak diketahui, maksudnya adalah kaifiyat yang berarti hakikat Dzat dan Sifat Allah.

1. Redaksi yang Menafikan Wujud Kaifiyat (نفي وجود الكيفية)

✅ Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat dari Abdullah bin Wahab, beliau berkata:

كُنَّا عِنْدَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5] كَيْفَ اسْتِوَاؤُهُ؟ قَالَ: فَأَطْرَقَ مَالِكٌ وَأَخَذَتْهُ الرُّحَضَاءُ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ، وَلَا يُقَالُ: كَيْفَ، وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوعٌ، وَأَنْتَ رَجُلُ سُوءٍ صَاحِبُ بِدْعَةٍ، أَخْرِجُوهُ. قَالَ: فَأُخْرِجَ الرَّجُلُ.

Kami sedang bersama Malik bin Anas, lalu masuklah seorang laki-laki, ia berkata: Wahai Abu Abdillah, (ia membaca ayat yang artinya): Yang Maha Pengasih istiwa di atas ‘Arsy (QS. Thaha: 5), kaifa (bagaimana) istiwa-Nya? Maka Malik diam menundukkan kepalanya dan keringatnya mengucur, kemudian ia mengangkat kepalanya lalu berkata (membaca ayat yang artinya) Yang Maha Pengasih istiwa di atas ‘Arsy, seperti yang Dia jelaskan tentang diriNya, dan tidak ditanya kaifiyatnya. Dan kaifiyat tentangnya (istiwa) itu tidak ada. Engkau adalah laki-laki buruk pelaku bid’ah. Keluarkan dia. Maka laki-laki itupun dikeluarkan. 
(al-Asma wa ash-Shifat, 2/304 No 866. Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanadnya baik (Fath al-Bari, 13/407)).

✅ Dari riwayat ini, dapat dipahami dari pernyataan al-Imam Malik bahwa kaifiyat istiwa itu tidak ada, karena arti ungkapan “kaifa ‘anhu marfu’” adalah kaifiyat itu diangkat dari istiwa, maksudnya tidak ada sama sekali kaifiyat.

✅ Seperti hadits tentang ditiadakannya catatan amal bagi yang belum baligh, orang tidur dan orang gila, menggunakan ungkapan رفع القلم (rufi’a al-qalam) artinya telah diangkat pena catatan amal, maksudnya tidak ada sama sekali catatan amal untuk mereka bertiga. 

✅ Berarti yang dinafikan wujudnya menurut al-Imam Malik dalam riwayat ini adalah kaifiyat yang berarti spesifikasi keadaan. 

✅ Makna hakiki menurut kamus bahasa harus dinafikan juga karena ia  mengandung tasybih.

✅ Al-Lalaka-i juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Ja’far bin Abdillah ungkapan al-Imam Malik dengan redaksi:

الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالِاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوَلٍ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Kaifiyat itu tidak masuk akal, dan istiwa darinya tidaklah “tidak diketahui” (maksudnya diketahui), percaya kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. (Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah, al-Lalaka-i, 3/441).

✅ Begitu pula riwayat “al-kaifu ghairu ma’qul” ini diriwayatkan oleh al-Lalaka-i di kitab yang sama dengan sanadnya dari Ummu Salamah RA (3/440), juga dari Rabi’ah ar-Ra’y (3/441)

✅ Dr. Saif bin ‘Ali al-‘Ashri dalam kitabnya al-Qaul at-Tamam fi Itsbat at-Tafwidh madzhaban li as-Salaf al-Kiram (hlm 289) menyatakan bahwa ungkapan ghairu ma’qul tersebut artinya sama seperti ungkapan:
الشريك لله غير معقول
Sekutu bagi Allah itu tidak masuk akal.

Maksudnya adalah sekutu bagi Allah itu mustahil menurut akal (mustahil aqli), artinya tidak ada sekutu bagiNya. Tidak boleh kita artikan sekutu bagi Allah itu ada, tapi akal kita tidak memahaminya.

2. Redaksi yang Menyatakan Kaifiyat Tidak Diketahui (نفي العلم بالكيفية)

Sementara ungkapan al-Imam Malik yang masyhur yang redaksinya:

الاستواء معلوم والكيف مجهول ..

Istiwa itu diketahui, dan kaifiyat itu tidak diketahui..

✅ menurut Syaikh Abdul Fattah al-Yafi’i dalam risalah singkatnya “It-haf Dzawi al-‘Uqul bi Riwayat Wa al-Kaifu Ghairu Ma’qul” bahwa beliau tidak menemukan yang bersanad kecuali riwayat Ibnu ‘Abdil Barr dalam at-Tamhid (7/138) dengan redaksi “وكيفيته مجهولة” (dan kaifiyatnya tidak diketahui). 

✅ Jika redaksi ini shahih, maka yang dimaksud dengan kaifiyat di sini adalah hakikat istiwa, ada tapi tidak diketahui.

✅✅ Sedangkan ungkapan “istiwa adalah ma’lum (diketahui)” dapat dipahami dengan dua kemungkinan:

Pertama, diketahui sebagai nash (teks) syariat yang pasti (معلوم الورود والثبوت). Kemungkinan ini diambil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hambali dalam kitabnya Dzamm at-Ta-wil halaman 26:

وَقَوْلهمْ الاسْتوَاء غير مَجْهُول أَي غير مَجْهُول الْوُجُود لِأَن الله تَعَالَى أخبر بِهِ وَخَبره صدق يَقِينا لَا يجوز الشَّك فِيهِ وَلَا الإرتياب فِيهِ فَكَانَ غير مَجْهُول لحُصُول الْعلم بِهِ وَقد رُوِيَ فِي بعض الْأَلْفَاظ الاسْتوَاء مَعْلُوم

Dan ucapan mereka "istiwa tidaklah majhul (tidak diketahui)" maksudnya tidak majhul keberadaannya, karena Allah ta’ala telah mengabarkannya dan kabar dariNya yakin pasti benar tidak ada keraguan dan sangsi padanya. Tidak majhul karena telah sampai ilmu tentangnya. Dan telah diriwayatkan di beberapa redaksi dengan istiwa ma’lum.

Kedua, diketahui maknanya menurut bahasa sebelum ia dinisbatkan kepada Allah, yaitu استقرّ istaqarra (menetap) dan علا ‘alaa (tinggi). 

✅ Adapun setelah dinisbatkan kepada Allah maka makna lahiriah sesuai bahasa tidak boleh digunakan, karena berakibat tasybih, selanjutnya kita serahkan atau tafwidh hakikat istiwa itu kepada Allah. 

✅ Oleh karena itu redaksinya sendiri mengatakan الاستواء معلوم “istiwa itu diketahui”, bukan استواء الله معلوم “istiwa Allah itu diketahui”.

✅ Begitu pula yang dilakukan oleh al-Qurthubi, beliau menjelaskan makna istiwa secara bahasa, tetapi ketika sudah membahas istiwa Allah ta’ala beliau menolak penafsiran dengan makna lahiriah menurut bahasa Arab, dan menyatakan pelakunya sebagai pelaku tasybih seraya menyatakan:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَقْرَؤُهَا وَنُفَسِّرُهَا عَلَى مَا يَحْتَمِلُهُ ظَاهِرُ اللُّغَةِ. وَهَذَا قَوْلُ الْمُشَبِّهَةِ.

Sebagian mereka berkata : “Kita membacanya dan menafsirkannya berdasarkan kandungan makna lahiriyah (menurut) bahasa.” Dan ini adalah ucapan pelaku tasybih. (Tafsir al-Qurthubi, 7/219).

📎 Ungkapan Ulama Lain yang Menafikan Wujud Kaifiyat (نفي وجود الكيفية)

📕 Ungkapan al-Imam Abu Hanifah

Al-Imam Abu Hanifah (An-Nu’man bin Tsabit) menyebutkan :

فَمَا ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ مِنْ ذِكرِ الْوَجْهِ وَالْيَدِ وَالنَّفْسِ فَهُوَ لَهُ صِفَاتٌ بِلَا كَيفَ ..

Maka apa yang disebutkan Allah ta’ala di Al-Qur’an seperti wajah, tangan, nafs (diri(Nya)) adalah sifat bagiNya tanpa ada kaifiyat.. 
(Dari kitab al-Fiqh al-Akbar hlm 27. Kitab ini dinisbatkan kepada al-Imam Abu Hanifah).

📕 Ungkapan al-Imam Ahmad bin Hambal

Adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitabnya al-‘Arsy (1/258), riwayat dari al-Khallal bahwa al-Imam Ahmad menjawab ketika ditanya tentang hadits-hadits sifat:

نؤمن بها، ونصدق بها ولا كيف، ولا معنى، ولا نرد منها شيئاً..

Kami beriman kepadanya, membenarkannya, tanpa kaifiyat, tanpa makna (yang kami ketahui). Kami tidak menolak apapun darinya..

📕 Ungkapan Abu Sulaiman al-Khaththabi

Al-Khaththabi menyebutkan dalam Ma’alim as-Sunan (Syarah Sunan Ibnu Majah) :

والكيفية عن الله وصفاته منفية 

Dan kaifiyat itu ditolak (ditiadakan) dari Allah dan sifat-sifatNya. (Ma’alim as-Sunan, 4/328).

Juga pernyataan beliau:

وليس قولنا إن الله على العرش أي مماس له أو متمكن فيه أو متحيز في جهة من جهاته بل هو خبر جاء به التوقيف فقلنا له به ونفينا عنه التكييف إذ ليس كمثله شيء (فتح الباري 13/413)

Ucapan kami bahwa sesungguhnya Allah ‘alal ‘Arsy tidak berarti Dia menyentuhnya atau menetap padanya, atau menempati bidang di salah satu arahnya. Akan tetapi, dia adalah khabar yang datang dengan tauqif (apa adanya), maka karenanya kamipun mengatakannya, dan penetapan kaifiyat kami tiadakan darinya, sebab tidak ada sesuatu apapun yang semisalNya. (Fath al-Bari, 13/413).

📕 Ungkapan Ibnu ‘Abdil Barr

Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan dalam kitabnya al-Istidzkar (2/530) :

وَقَدْ قَالَتْ فِرْقَةٌ مُنْتَسِبَةٌ إِلَى السُّنَّةِ إِنَّهُ يَنْزِلُ بِذَاتِهِ! وَهَذَا قَوْلٌ مَهْجُورٌ لِأَنَّهُ تَعَالَى ذِكْرُهُ لَيْسَ بِمَحَلٍّ لِلْحَرَكَاتِ وَلَا فِيهِ شَيْءٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْمَخْلُوقَاتِ

Dan satu kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Sunnah berkata “Sesungguhnya Dia turun dengan DzatNya !” Ini adalah ucapan yang (harus) ditinggalkan, karena Dia yang Mahatinggi kemuliaanNya bukanlah wadah bagi gerakan-gerakan, dan tak ada sedikitpun ciri-ciri makhluk padaNya. 

✅ Ungkapan beliau ini meskipun tidak menggunakan redaksi kaifiyat, tetapi isinya menolak kaifiyat yang bermakna spesifikasi keadaan seperti makhluk, dalam hal ini adalah berpindah.

📕 Ungkapan Abu Hafsh an-Nasafi 

Abu Hafsh an-Nasafi menyebutkan dalam Aqidahnya:

ولا يوصف بالماهية، ولا بالكيفية، ولا يتمكن في مكان، ولا يجري عليه زمان، ولا يشبهه شيء، ولا يخرج عن علمه وقدرته شيء

Dan Dia tidak disifati dengan esensi dan kaifiyat, Dia tidak menetap di suatu tempat, dan tidak berlaku bagiNya waktu, apapun tidak menyerupaiNya, dan tidak ada yang keluar dari ilmu dan kekuasaanNya. (al-‘Aqidah an-Nasafiyyah, hlm 3).

📕 Ungkapan Ibnu Hajar al-'Asqalani
 
✅ Ketika menjelaskan sikap berbagai kelompok dalam memahami hadits nuzul, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan madzhab mayoritas salaf :

ومنهم من أجراه على ما ورد مؤمنا به على طريق الإجمال منزها الله تعالى عن الكيفية والتشبيه وهم جمهور السلف. ونقله البيهقي وغيره عن الأئمة الأربعة والسفيانين والحمادين والأوزاعي والليث وغيرهم. 

Diantara mereka ada yang memperlakukannya apa adanya dalam keadaan beriman dengannya secara global, dengan tetap menyucikan Allah ta’ala dari kaifiyat dan tasybih. Mereka adalah mayoritas salaf. Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkannya dari empat imam madzhab, dua Sufyan (Sufyan ats-Tsauri & Sufyan bin ’Uyaynah), dan dua Hammad (Hammad bin Zaid & Hammad bin Salamah), al-Auza’i, al-Laits dan lain-lain. (Fath al-Bari, 3/30).

📎 Contoh Ungkapan Ulama yang Menafikan Pengetahuan tentang Kaifiyat (نفي العلم بالكيفية)

✅ Yaitu pengetahuan tentang kaifiyat yang bermakna hakikat Dzat dan Sifat Allah.

📕 Ungkapan al-Qurthubi

وَلَمْ يُنْكِرْ أَحَدٌ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ أَنَّهُ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ حَقِيقَةً. وَخُصَّ الْعَرْشُ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَعْظَمُ مَخْلُوقَاتِهِ، وَإِنَّمَا جَهِلُوا كَيْفِيَّةَ الِاسْتِوَاءِ فَإِنَّهُ لَا تُعْلَمُ حَقِيقَتُهُ.

Dan tidak seorangpun diantara salaf shalih mengingkari hakikat “istawa ‘ala ‘arsyihi”. Arsy dikhususkan karena dia makhluk yang paling besar. Mereka tidak tahu kaifiyat istiwa karena ia tidak akan diketahui hakikatnya. (Tafsir al-Qurthubi, 7/219).

✅✅ Jangan dipahami bahwa hakikat istiwa yang dimaksud oleh al-Qurthubi adalah makna lahiriyahnya menurut bahasa. Tidaklah demikian. Karena setelah mengutip ucapan al-Imam Malik tentang istiwa, al-Qurthubi dengan tegas menolak makna lahiriyah yang beliau nyatakan sebagai bentuk tasybih :

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَقْرَؤُهَا وَنُفَسِّرُهَا عَلَى مَا يَحْتَمِلُهُ ظَاهِرُ اللُّغَةِ. وَهَذَا قَوْلُ الْمُشَبِّهَةِ.

Sebagian mereka berkata : “Kita membacanya dan menafsirkannya berdasarkan kandungan makna lahiriyah (menurut) bahasa.” Dan ini adalah ucapan pelaku tasybih. (Tafsir al-Qurthubi, 7/219).

📌 Kesimpulan Maksud dari Tafwidh Sifat Khabariyah oleh Salaf Shalih

1. Meyakini penuh semua nash wahyu tentang sifat-sifat Allah tanpa penolakan sedikitpun (الإيمان به / al-iman bihi).

2. Memperlakukannya apa adanya yaitu bahwa tafsirnya adalah dengan membacanya (الإمرار / al-imrar).

3. Menyucikan Allah dari makna lahiriyah menurut bahasa atau dari kaifiyat yang terbayang di benak pikiran seperti makhluk (التنزيه / at-tanzih).

4. Meskipun yakin bahwa ia memiliki makna diantara berbagai makna yang laik bagi Allah ta'ala, namun tetap diam (tidak menafsirkannya) atau tidak menentukannya, dan menyerahkan makna hakikinya kepada Allah. (السكوت عنه / as-sukut 'anhu).

Posting Komentar untuk "Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala (A-007 Bagian 5)"