Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Antara Al-Qur’an dengan Hadits Qudsi (UQ-004)


📚 الفَرْقُ بَيْنَ القُرْآنِ وَبَيْنَ الحَدِيثِ القُدْسِيِّ

✅ Untuk mengetahui perbedaan antara keduanya, kita perlu mengetahui lebih dulu definisi masing-masing. Pada materi UQ-001 telah dijelaskan definisi Al-Qur’an, sedangkan definisi hadits secara umum telah dijelaskan di materi MH-001.

📌 Adapun definisi hadits qudsi adalah:

مَا يُضِيفُهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَى اللهِ تَعَالَى، أَيْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَرْوِيهِ عَلَى أَنَّهُ مِنْ كَلَامِ اللهِ
Hadits yang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disandarkan kepada Allah ta’ala, maksudnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkannya dengan menyatakan bahwa ia adalah firman Allah. (Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an, Manna’ Al-Qathan, hlm 25).

✅ Dalam hadits qudsi, Rasulullah meriwayatkan firman Allah dengan lafal (redaksi) dari dirinya, atau bersabda sambil menyandarkan sabdanya itu kepada Allah secara tegas. Sebagian ulama menyatakan bahwa lafal hadits qudsi juga merupakan kalamullah ta’ala, seperti pendapat Syaikh Shalih Al-Fauzan sebagaimana disebutkan di web resmi beliau.

📌 Contoh hadits qudsi:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: "أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مَنْهُ .. (أخرجه البخاري ومسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah ta’ala berfirman: Aku di sisi prasangka hambaKu terhadapKu, dan Aku bersamanya jika ia mengingatKu, bila ia mengingatKu di dalam dirinya maka Aku mengingatnya pada diriKu, bila ia mengingatKu di dalam sebuah jamaah, maka Aku mengingatnya di dalam jamaah yang lebih baik dari (jamaah)nya. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

📌 Perbedaan antara Al-Qur’an dan Hadits Qudsi:

1. Al-Qur’an tidak dinisbatkan kecuali kepada Allah sehingga hanya boleh dikatakan firman Allah ta’ala: …., sedangkan hadits qudsi boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau menisbatkannya kepada Allah seperti contoh di atas.

2. Semua ayat Al-Qur’an diriwayatkan dengan riwayat mutawatir sehingga keshahihannya mutlak, sedangkan hadits qudsi seperti hadits nabawi ada yang mutawatir dan sebagian besarnya adalah riwayat ahad sehingga yang ahad ini ada yang shahih, hasan, maupun dha’if. (Lihat pengertian mutawatir dan ahad pada materi MH-002).

3. Al-Qur’an, membacanya dinilai sebagai ibadah khusus karena setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan, sedangkan membaca hadits qudsi dan hadits nabawi bukan sebagai ibadah khusus, meskipun tetap bernilai pahala secara umum. Oleh karena itu hadits qudsi tidak dapat menjadi pengganti bacaan Al-Qur’an di dalam shalat.

4. Al-Qur’an menantang manusia dan jin untuk membuat yang semisal dengannya jika mereka ragu bahwa ia adalah firman Allah, sedangkan hadits qudsi maupun hadits Rasulullah tidak demikian.

5. Al-Qur’an berasal dari Allah baik redaksi maupun maknanya, atau dengan kata lain ia adalah wahyu secara makna dan redaksinya sekaligus. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah sedangkan redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (wahyu secara makna tanpa redaksi). Perbedaan ini tidak diakui oleh ulama yang menyatakan bahwa redaksi hadits qudsi juga merupakan firman Allah.

6. Al-Qur’an disepakati tidak boleh diriwayatkan dengan esensi maknanya, tetapi harus dengan redaksi atau lafalnya. Sedangkan hadits qudsi menurut sebagian ulama boleh diriwayatkan dengan maknanya saja.

7. Mushaf Al-Qur’an tidak boleh disentuh langsung oleh yang berhadats besar, sedangkan kitab hadits tidak mengapa disentuh oleh orang yang tidak suci dari hadats besar.

🔑 Referensi Utama: 
Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an, Manna’ Al-Qathan

Posting Komentar untuk "Perbedaan Antara Al-Qur’an dengan Hadits Qudsi (UQ-004)"