Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TUJUAN AQIDAH ISLAMIYAH (أَهْدَافُ العَقِيدَةِ الإِسْلَامِيَّةِ A-003)


✅ Dengan berpegang teguh kepada aqidah islamiyah terutama seluruh rukun iman dan prinsip-prinsip Islam, maka tujuan-tujuan mulia dari aqidah berikut ini akan terwujud:

1. إخْلَاصُ النِّيَّةِ، وَالْعِبَادَةِ للهِ تَعَالَى وَحْدَهُ

Pertama, agar kita mengikhlaskan niat dalam beramal dan mengesakan Allah dalam beribadah.

✅ Asas aqidah adalah mengenal Allah (معرفة الله) dengan pengenalan yang benar, dan tujuannya agar kita mengikhlaskan niat dan ibadah hanya untuk-Nya.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 22).

✅ Referensi untuk mengenal Allah adalah wahyu yang diturunkan-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran, maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az-Zumar: 2).

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Az-Zumar: 11)

2. تحْرِيرُ العَقْلِ، وَالْفِكْرِ مِنَ التَّخَبُّطِ الفَوْضَوِيِّ النَّاشِئِ عَنِ خُلُوِّ القَلْبِ مِنَ العَقِيدَةِ السَّلِيمَةِ

Kedua, agar akal dan fikiran kita bebas dari kebingungan dan kekacauan, disebabkan oleh kosongnya hati dari aqidah yang benar.

✅ Diantara bentuk kekacauan berfikir adalah tidak mampu mengenal hakikat pemberi manfaat dan madharat. Atau terbaliknya standar kebaikan dan kebenaran, misalnya menganggap manfaat adalah madharat dan madharat adalah manfaat, sehingga seseorang menjadi tidak mengenal dirinya sendiri. Semua itu disebabkan mereka jauh dari bimbingan wahyu dan Rasul pembawa wahyu.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19).

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66) أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?. (QS. Al-Anbiya: 66-67).

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan madharat kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi DALAM KEADAAN BINGUNG, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami." Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam. (QS. Al-An’am: 71).

3. الرَّاحَةُ النَّفْسِيَّةُ، وَالْفِكْرِيَّةُ

Ketiga, ketenangan jiwa dan fikiran

✅ Yaitu dengan mengesakan Allah dan melakukan perbaikan sesuai bimbingan rasul Allah:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS. Al-An’am: 42).

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut bahwa kamu mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 81-82).

4. سلَامَةُ القَصْدِ، وَالعَمَلِ مِنَ الاِنْحِرَافِ فِي عِبَادَةِ اللهِ تَعَالَى، أَوْ مُعَامَلَةِ الْمَخْلُوقِينَ

Keempat, agar niat dan amal kita selamat dari penyimpangan di dalam beribadah kepada Allah maupun dalam bermuamalah dengan sesama makhluk Allah.

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan, maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah, mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.

✅ Allah menyebutkan bahwa penyebab utama seseorang mengurangi takaran dan timbangan dalam jual beli adalah karena lemahnya iman kepada hari akhir:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3) أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (5) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِين

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam. (QS. Al-Muthaffifin: 1-6).

5. الْحَزْمُ وَالْجِدُّ فِي الأُمُورِ

Kelima: Tegas dan serius dalam berbagai hal

✅Aqidah islamiyah bertujuan menjadikan seorang muslim/ah memiliki ketegasan dalam prinsip hidupnya, diantaranya keberpihakan kepada kebenaran dan penolakan terhadap kebatilan, pembelaan terhadap pihak yang dizalimi dan menahan tangan si zalim. 

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

... Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (QS. Al-Hujurat: 7).

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!" (QS. An-Nisa: 75).

✅ Aqidah islamiyah juga menjadikannya bersungguh-sungguh menggapai ridha ilahi dengan bersegera melaksanakan kebaikan dan tidak meremehkannya sekecil apapun kebaikan itu.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan BERSEGERALAH kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran: 133).

6. تكْوِينُ أُمَّةٍ قَوِيَّةٍ

Keenam: Untuk membentuk ummat yang kuat. 

✅ Ummat dengan iman yang sejati akan siap berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan segala yang mereka miliki untuk meninggikan kalimat Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat: 15).

✅Allah menjanjikan akan memberikan kemenangan dan kepemimpinan kepada ummat Islam manakala mereka hanya tunduk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. MEREKA TETAP MENYEMBAHKU-KU DENGAN TIADA MEMPERSEKUTUKAN SESUATU APAPUN DENGAN AKU. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55).

7. الوُصُولُ إِلَى سَعَادَةِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Ketujuh: Agar kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan DALAM KEADAAN BERIMAN, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97).

📌 Referensi: Nubdzah fi Al-‘Aqidah Al-Islamiyah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

1 komentar untuk "TUJUAN AQIDAH ISLAMIYAH (أَهْدَافُ العَقِيدَةِ الإِسْلَامِيَّةِ A-003) "

  1. Gambling has come to imply wagering money or different belongings on chance activities or events with 빅카지노 random or uncertain outcomes . Gambling, a socially acceptable leisure activity, is difficult for adolescents to entry due to the legal age restrict. Gambling dysfunction is defined as a psychiatric state of continuous playing behavior despite the fact fact} that|even though|although} it negatively impacts an individual’s important life functions . Despite truth that|the reality that} many people perceive downside playing to be an issue prevalent solely in adults, current research indicates that downside and pathological playing pose serious issues among adolescents . The characteristics and repetition of playing behaviors are additionally seen in downside playing of adolescents, and adolescents tend to lose control and to be impulsive . About 70% of adults with a playing dependancy are reported to have started playing in adolescence in Korea .

    BalasHapus

Hindari kata-kata yang mengandung pornografi, penghinaan dan kebencian serta pelanggaran hukum yang berlaku.